Perjalanan saya ke Mandalika bukan sekadar ingin melihat megahnya sirkuit bertaraf internasional yang sering disebut sebagai kebanggaan Indonesia itu. Lebih dari itu, saya ingin merasakan denyut kehidupan di sekitarnya. kehidupan para pedagang kecil yang turut menjadi saksi setiap deru mesin balap dan hiruk-pikuk penonton yang datang dari berbagai daerah.
Pagi itu, udara di kawasan Mandalika terasa hangat dan berdebu. Dari kejauhan, papan bertuliskan Pertamina Mandalika International Circuit tampak berkilau di bawah sinar matahari. Namun langkah kaki saya justru membawa ke sisi lain dari keramaian: deretan tenda kecil dan tikar-tikar sederhana di luar pagar sirkuit. Di sanalah, kehidupan nyata berdenyut.
Saya bertemu dengan sekelompok ibu-ibu yang menjajakan souvenir. Gelang, gantungan kunci, topi, dan kaos bertuliskan “Mandalika” tersusun rapi di atas tikar. Salah satunya, Ibu Rosida wajahnya hangat, senyumnya lebar, tangan kasarnya tampak lincah menata dagangan sambil menyapa pengunjung yang lewat.
“Kalau hari ramai, alhamdulillah bisa laku banyak. Tapi kalau sepi, ya sabar saja,” ujarnya sambil tertawa kecil. Ada ketulusan yang sulit dijelaskan, semacam keteguhan yang tumbuh dari harapan sederhana.
Mereka tidak bisa masuk ke area sirkuit; izin dan biaya tempat di dalam terlalu tinggi bagi pedagang kecil seperti mereka. Namun semangat mencari nafkah tak pernah padam. Di luar pagar, di bawah terik matahari dan debu jalan, mereka tetap tersenyum menyambut siapa pun yang datang dengan ramah, seolah menjual lebih dari sekadar souvenir: mereka menjual kehangatan dan keramahan hati Lombok.
Tak jauh dari tempat Ibu Rosida, saya melihat beberapa anak kecil duduk di atas tikar. Mereka baru pulang sekolah, masih mengenakan seragam SD, namun sudah sibuk menawarkan gelang-gelang kecil buatan tangan. “Ayo Kak, murah saja, lima ribu,” kata salah satu dari mereka, matanya berbinar penuh semangat. Tawa mereka renyah, polos, dan menular. Di sela-sela itu, saya sempat berpikir mungkin inilah wajah asli dari keteguhan hidup: sederhana tapi kuat.
Sore menjelang, Ibu Rosida mengajak saya berjalan ke arah Pantai Kuta Mandalika. “Biar lihat indahnya pantai kami,” katanya sambil tersenyum. Jalan menurun menuju pantai terasa tenang; angin laut membawa aroma asin dan semilir hangat yang menenangkan. Di sana, di antara ombak dan pasir putih, tampak para pedagang lain yang beristirahat sejenak setelah seharian berjualan. Mereka bercanda, berbagi bekal, dan sesekali menatap langit senja yang mulai berwarna jingga.
Saya duduk sejenak di tepi pantai, menatap horizon yang memerah. Di belakang saya, suara tawa anak-anak bercampur dengan debur ombak. Rasanya, inilah Mandalika yang sesungguhnya bukan hanya sirkuit megah dan ajang balap dunia, tapi juga kisah manusia-manusia sederhana yang hidup dengan penuh semangat, cinta, dan keikhlasan.


