Mengawal Transformasi Pendidikan: Catatan Perjalanan Saya Mengikuti Penguatan Pengawas Sekolah Jawa Timur 2025

Sebagai seorang pengawas SMK di Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Pasuruan, saya selalu percaya bahwa pendidikan tidak hanya bergerak melalui kurikulum dan fasilitas, tetapi juga melalui manusia—guru, kepala sekolah, dan juga pengawas yang mengawal mutu dari balik layar. Karena itu, kesempatan mengikuti kegiatan Rakor Pengawas Sekolah dan Penguatan GTK Tingkat Provinsi Jawa Timur pada 24–26 November 2025 di Hotel Aliante Malang menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya.

Tiga hari ini bukan sekadar forum koordinasi, tetapi ruang belajar yang memperkaya wawasan, memperkuat jejaring, dan mengingatkan kembali tentang pentingnya peran pengawas dalam mengawal transformasi pendidikan di satuan pendidikan.

 SPMI dan Peran Pengawas di Tengah Transformasi Pendidikan

Materi pertama yang kami dalami mengajak saya kembali menyelami pondasi utama manajemen mutu, yaitu Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Meskipun konsep SPMI tidak asing lagi bagi kami, namun pembahasan kali ini terasa lebih relevan, karena konteksnya diarahkan pada peran pengawas sebagai:

  • Pengawal Transformasi Pendidikan
  • bukan sekadar pemeriksa dokumen.

Di materi ini saya diingatkan bahwa sekolah perlu terus bergerak melalui siklus mutu: pemetaan – perencanaan – pelaksanaan – evaluasi – peningkatan. Dan pengawas adalah pendamping setia dalam setiap tahap tersebut.

Yang paling mengena bagi saya adalah penekanan bahwa sekolah harus memulai setiap perubahan berbasis data, bukan asumsi. Inilah tantangan yang terus kami tekankan di sekolah binaan.

Simulasi Inkuiri Kolaboratif: Belajar Mengurai Masalah secara Bersama

Salah satu sesi paling menyenangkan adalah Simulasi Inkuiri Kolaboratif. Kami diajak berdiskusi dalam kelompok kecil untuk mengurai permasalahan nyata yang sering muncul di sekolah, misalnya:

“Visi dan misi sekolah belum selaras dengan prinsip Pembelajaran Mendalam”.

Dari sini saya mendapatkan insight penting bahwa banyak masalah sekolah sebenarnya bisa ditemukan akarnya melalui pertanyaan yang tepat, observasi, dan kolaborasi antar pemangku kepentingan. Sesi ini terasa hidup, banyak dialog, dan benar-benar mengasah kemampuan refleksi kami.

Saya merasa metode inkuiri ini sangat relevan untuk dibawa ke sekolah, terutama saat mendampingi guru dan kepala sekolah menyelesaikan masalah yang kompleks.

Penguatan Pembelajaran Berbasis Projek (PBL/PJBL): Pendekatan yang Mendorong Murid Lebih Mandiri

Materi berikutnya membahas Pembelajaran Berbasis Projek, salah satu elemen penting dalam Kurikulum Merdeka. Sebagai pengawas SMK, materi ini terasa sangat dekat dengan kebutuhan anak-anak vokasi yang memang harus belajar melalui pengalaman nyata.

Ada beberapa hal yang menurut saya penting untuk dibawa pulang ke sekolah:

  • PBL melatih siswa berpikir kritis dan kreatif
  • keterlibatan masyarakat/mitra menjadi nilai tambah
  • asesmen projek harus terencana dan jelas melalui kerangka GRASPS
  • guru perlu lebih banyak menjadi fasilitator, bukan pusat informasi

Materi ini menguatkan saya untuk terus mendampingi sekolah agar tidak hanya menjalankan projek sebagai formalitas, tetapi sebagai pengalaman belajar yang benar-benar bermakna.

Sinkronisasi Program GTK: Menyatukan Langkah Pengawas se-Jawa Timur

Selain penguatan kompetensi, kegiatan ini juga menjadi ajang penting sinkronisasi program kerja antar pengawas. Kami menyamakan persepsi terkait:

  • mekanisme supervisi akademik dan manajerial
  • pendampingan satuan pendidikan
  • peningkatan literasi dan numerasi
  • pengawasan implementasi Kurikulum Merdeka
  • budaya refleksi di sekolah

Bagi saya pribadi, sesi ini membuat saya semakin memahami arah kebijakan besar pendidikan Jawa Timur dan bagaimana pengawas harus bergerak secara kolaboratif, tidak berjalan sendiri-sendiri.

Penutup: Tiga Hari yang Menghidupkan Kembali Semangat Mengawal Mutu

Mengikuti kegiatan ini membuat saya semakin yakin bahwa perubahan pendidikan tidak datang dari instruksi besar, melainkan dari langkah-langkah kecil yang konsisten—dan pengawas memiliki peran strategis dalam memastikan langkah-langkah kecil itu terus berjalan di sekolah.

Saya pulang dari kegiatan ini membawa semangat baru:

semangat untuk mendampingi sekolah lebih dekat, lebih manusiawi, dan lebih berpihak pada murid.

Transformasi pendidikan adalah perjalanan panjang, namun melalui kolaborasi, refleksi, dan penguatan berkelanjutan, saya percaya kita bisa membawa sekolah-sekolah di Jawa Timur menuju mutu yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *